Soon Indonesia will have a new vice-president, whoever the next president will be. Could be the conservative Muslim cleric, or the successful businessman. Dahlan Iskan happen to know both of them well. Below excerpt from his article “Tafsir Wapres untuk Nasib Sendiri”
https://www.disway.id/r/175/tafsir-wapres-untuk-nasib-sendiri. Maybe a little late but good read nonetheless (if you understand Indonesian).
Di NU Kyai Ma'ruf dikenal sebagai ulama garis lurus. Prinsipnya: 'tidak' atau 'ya'. Tidak ada prinsip 'atau'.
Itu berbeda dengan ulama NU lainnya. Seperti Kyai Aqil Siradj. Yang berprinsip: di antara 'ya' atau 'tidak' ada kemungkinan 'atau'.
Saya pernah menerbitkan koran di Mekah. Ketika masih muda dulu. Saya minta dibantu dua mahasiswa S3. Yang asal Indonesia. Sebagai redaktur tamu. Yang lebih paham situasi Arab Saudi.
Yang satu: mahasiswa S3 asal Lombok. Namanya: Suwardi Al Ampenani.
Yang satu lagi: mahasiswa S3 asal Cirebon. Namanya: Said Aqil Siradj.
Setelah bermingu-minggu bergaul kami pun tahu. Keduanya ternyata berbeda sikap. Dalam hal keagamaan.
Kami tidak akan bertanya pada Suardi tentang boleh atau tidak menghidupkan tv di kantor kami. Kami sudah tahu jawabnya: tidak boleh. Haram.
Maka kami menanyakan itu kepada Said Aqil Siradj. Kami sudah tahu jawabnya. Boleh.
Seperti itu pula bedanya antara Said Aqil Siradj dengan Ma'ruf Amin.
Maka ada guyonan di kalangan NU. Kalau mau bertanya yang tidak boleh tidak boleh bertanyalah ke Kyai Ma'ruf Amin. Kalau mau bertanya yang boleh-boleh bertanyalah ke Kyai Said Aqil Siradj.
Itu pula sebabnya Kyai Ma'ruf Amin di kubu 212. Sedang Kyai Said Aqil Siradj di luarnya.